Ceritaku tentang Eternals dan LSF

Setelah kemarin kesal dengan batal menonton Blackwidow di bioskop, bahkan untuk Shang-Ci pun harus terlambat beberapa minggu, di Kota Padang tercinta film Eternals tayang berbarengan dengan bioskop lain di Indonesia. Meskipun tayang dengan banyak adegan yang dipotong harus tetap disyukuri, sebab potongan adegan yang hilang tidak banyak mempengaruhi cerita utama dari film ini. Sedihnya aku kadang suka dengan cerita sampingan dan itu akan dirusak oleh pemotongan ini. 


 

Ada banyak perdebatan menyambut penayangan film ini, atau jangan kita sebut perdebatan dulu, anggaplah itu komentar pedas dan penyambutan buruk terhadap penayangan ini. Pasti di Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia banyak perdebatan sebelum akhirnya menyatakan lulus sensor untuk Eternals. Kehadiran konten LGBTQ+ sampai penggambaran kiamat dan penggambaran pencipta sesuatu yang wajar kalau mengundang keramaian, khususnya di Indonesia.

Beberapa negara Timur Tengah bahkan tidak memberi izin tayang untuk film yang satu ini, kalau di sana alasan konten seksual bukan alasan utama mereka. Tapi penggambaran mengenai penciptaan, kehadiran Eternals sendiri, dan juga alasan kiamat terjadi, kalau salah memahami malah bisa menyenggol  keyakinan sih. Entah aku saja yang terbawa berita atau memang begitu cerita utama dalam film ini.

Dengan semua kecemasan yang muncul saat mendekati tanggal penayangannya, Eternals tetap mendapat Rating R (Remaja) dengan beberapa potongan adegan sensual. Di Amerika sendiri memang juga mendapatkan remaja yaitu PG-13. Sedikit kecewa dengan hal ini sebenarnya, LSF terkesan memaksakan film ini dengan rating yang sama dengan aksi pemotongan adegan ini. Tidak satupun adegan sensual yang ada dalam penayangan di bioskop.

Kalau semisalnya memang ada unsur keberagaman seksual dan adegan seksual, seharusnya pemotongan adegan bukan jalan yang benar dalam menyambut sebuah karya. Apakah LSF tidak boleh memberi rating berbeda dari MPAA? Harusnya kalau memang konten seksual dalam film ini tidak berterima untuk remaja, LSF bisa saja memberikan rating dewasa 17+ atau bahkan 21+. Atau memang harus mengikuti MPAA, aku juga tidak paham. 

Mengingat sisi cerita tentang penciptaan Celestial dan kehancuran sebuah dunia, film ini memang patutnya 17+ paling rendah. Sebab apapun karyanya, entah lagu, novel, hingga film, bisa saja menanamkan ide pemikiran kepada penikmatnya. Dan cukup berbahaya kalau semisalnya anak 14 tahun menonton ini lalu menerimanya tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga menerimanya sebagai sebuah kemungkinan fakta di dunia. 


Aku yakin sepanjang 2 jam 37 menit karya Chloe Zhao ini, benar-benar bersih dari adegan sensual bahkan ciuman sekalipun. Sebuah kelucuan yang disuguhkan oleh LSF nih. Beberapa hari yang lalu aku menonton No Time To Die, di sana bukan hanya sensual tetapi juga adegan seksual di atas ranjang kalau tidak salah. LSF tetap memberi Rating R untuk film itu tanpa potongan adegan yang hilang. Hanya saja memang diprotes banyak orang tua melalui media sosial. Atau memang ada trauma LSF terhadap protes itu?

Sekali lagi ada rasa ingin tahuku bagaimana LSF mempertimbangkan rating untuk sebuah film? Apakah harus sama dengan negara asal film? Atau sebenarnya LSF bisa saja memberi rating yang berbeda sendiri mengingat kultur kita yang memang berbeda dengan negara asal dari kedua film tersebut.



Dibalik itu semua, Eternals adalah film yang menyenangkan untuk ditonton sekalipun benar-benar harus diterima sebagai karya hiburan untuk menghibur. Ada banyak adegan lucu yang diselipkan di sana. Beberapa adegan lainnya bukan lucu sih menurutku, lebih ke menghangatkan jiwa aja gitu. Sekalipun hanya sebagai bumbu dalam film ini, hubungan Makkari dan Druig akan menjadi favoritku di masa depan MCU.

 

(All pict by Google) 

Komentar

Posting Komentar