Nonton Encanto Dua Kali, dan Akan Nonton Lagi

Menonton kembali cerita naik turun emosi seorang Mirabel yang lahir dan besar di keluarga yang masing-masingnya memiliki keistimewaan magis. Keluarga yang selalu berusaha menunjukkan mereka baik-baik saja padahal ada beban yang tidak lepas dari perasaan mereka masing-masing. 

Menurutku akar masalah mereka serumah adalah kakunya sang nenek untuk bisa memenuhi ekspektasi penduduk desa yang dianggapnya bergantung pada magis yang keluarganya miliki. Pada Mirabel kecil yang tidak mendapatkan berkat untuk keistimewaannya, nenek mulai kecewa dan merasa gagal. Aku akan spoiler kalau mengisahkan semuanya, tapi ada beberapa hal yang aku simpulkan dari film ini sebagai lanjutan spoilerku. 



Aku memaknai film ini dengan kesimpulan kita harus berdamai dengan ekspektasi. Entah itu milik kita sendiri ataupun ekspektasi orang lain terhadap kita. Tidak semuanya harus bisa kita penuhi, cukup jadikan ekpektasi sebagai pemicu semangat. Bukan menjadikannya sebagai beban penuh untuk memenuhinya utuh. Dua saudari Mirabel, Luisa si super kuat dan Isabella si perempuan sempurna, akhirnya bisa jujur pada Mirabel kalau mereka ternyata lelah untuk melakukan segala baik yang jadi ekspektasi orang lain untuk diri mereka. 


 
Selain itu karakter dua saudari Mirabel ini menurutku bentuk melawan standarisasi kecantikan. Sebab Luisa digambarkan berotot kekar dan suara berat yang sangat maskulin, sedangkan Isabella adalah sosok princess di khayalan anak-anak, ia menumbuhkan bunga-bunga yang cantik persis seperti dia. Dan keduanya cantik seada-adanya mereka. Bahkan di sisi Isabela yang selalu cantik dan identik dengan bunga mawar sebagai simbol cantiknya perempuan malah sebenarnya dia merasa sangat tertekan untuk memenuhi ekspektasi orang atas cantik atau kesempurnaan yang dimilikinya.

Hal lain yang kumaknai dari film ini adalah segala baik dan buruk selalu datang beriringan, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Paman Bruno adalah si peramal masa depan dianggap pembawa keburukan karena selalu menyampaikan kabar buruk. Mungkin dia menganggap sebagai peringatan saja, namun orang malah menganggap itu sebagai kutukan dari Bruno. Padahal tidak semua ramalan yang disampaikan Bruno tentang hal jelek, misalnya ramalan pada Isabela yang mengatakan hidupnya akan selalu sempurna. 



 

Meskipun seharusnya Paman Bruno melihat semua ramalannya secara utuh dan melihat dari dua sisi. Seperti ramalan besarnya terhadap Mirabel yang ternyata punya dua sisi dengan dua kondisi yang berbeda. Tinggal memilih apa yang langkah yang dipilih Mirabel. Memberi kita pengetahuan kalau ramalan itu mau baik atau buruk, kembali lagi pada kita yang menjalaninya. 


 

Intinya sih film ini bercerita tentang penerimaan segala hal dalam hidup setelah melakukan segala usaha untuk yang terbaik. Baik dan buruknya kembali pada sudut pandang kita mau melihat kemana, terlebih di waktu-waktu sekarang standarisasi seperti sudah hancur. Standar cantik tidak hanya seperti isabela dengan mawarnya, standar kuat tidak berarti tidak membutuhkan pertolongan. 

Sepertinya ini cerita yang tidak terlalu menarik dibanding unggahan sebelumnya, mungkin karena bagiku film-film Disney hanya menarik untuk ditonton bukan untuk diceritakan. Selain itu aku menulis pengalamanku tentang film ini setelah dua kali menonton, jadi ketertarikkannya ya seperti ke film Disney yang sudah sering aku tonton lainnya. Hanya sebagai film ini akan segera ditayangkan di Disney+ Hotsar taggal 24 Desember 2021. Bisa jadi pilihan tontonan keluarga juga.

Komentar