Kalian pasti masih ingat dengan bencana banjir bandang besar-besaran dan longsor dimana-mana yang terjadi hampir 7 bulann lalu di Sumatra kan? Bener kan ya 7 bulan lalu? Masih teringat jelas bagaimana mencekamnya media sosial sepanjang bulan November akibat bencana besar-besaran di wilayah Sumatra saat itu, terutama Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Menjadi headline berita daerah, nasional, hingga berita internasionl. Dunia melihat, mengirimkan banyak sekali bantuan logistik, banyak sekali relawan yang turun ke lapangan. Bahkan hingga saat ini pun kita masih menerima kabar dari relawan yang hadir ke lokasi-lokasi tersebut. Meskipun masih banyak akses yang sulit ditempuh, masih banyak sekali kendalanya yang memang harus di dengar langsung dari masyarakatnya.
Itu pula yang dilakukan oleh YAICI dan Majelis Kesehatan PP Aisyiah berkolaborasi dengan MDMC, Rangkul Foundation (Zaskia Adya Mecca), dan juga dinas-dinas terkait di daerah yang disambangi tim relawan YAICI dan Aisyiah.
Secara umum, mereka ingin mendengar dan melihat situasi terkini di daerah terdampak, namun prioritasnya adalah kesehatan dan gizi untuk anak-anak dan para Ibu (ibu hamil dan ibu menyusui). Berkunjung pada bulan Februari dan April lalu ke tiga titik:
Desa Batang Ara, Kec.Bandar Pusaka, Aceh Tamiang
Dusun Seu Sirah, Kec.Besitang, Langkat Sumatra Utara
Nagari Salareh Aia, Kec.Palembayan, Agam Sumatra Barat.
Di sana masyarakat terdampak masih belum berdaya seperti yang kita harapkan, tinggalnya pun masih di rumah-rumah darurat yang waktu itu diperbantukan. Giat ekonomi masih sangat lesu karena banyak faktor, entah itu faktor akses distribusi, faktor keterbatasan lainnya yang masih kita perjuangkan bersama.
Bantuan yang mereka butuhkan sudah bukan hanya logistik untuk makan sehari-hari, meskipun tentu saja masih membutuhkan. Namun juga sudah di level butuh bantuan psikososial dan aksesibiltas perekonomian mereka. Dari tim YAICI aku tahu kalau masyarakat di lokasi terdampak masih ada yang merasa cemas berlebihan / ketakutan saat hujan turun.
Perkara gizi juga tidak bisa kita abaikan dari sana, bantuan yang termasuk mie instant dan kental manis perlu diberikan edukasi agar tidak menjadi sebuah kebiasaan seterusnya. Terutama kental manis yang masih dianggap ‘susu’ oleh kebanyakan masyarakat. Maka inilah yang dikenalkan para relawan kepada anak-anak dan para ibu, sebab gizi mereka tentu menentukan generasi-generasi selanjutnya.
Tentu edukasi tidak dapat hanya dilakukan sekali, mesti dilakukan berulang kali dan oleh lebih banyak orang. Ucap mas Satria-tim YAICI-kalau tantangan dari pemulihan pascabencana tidak terbatas pada pembangunan infrastruktur saja namun juga memulihkan sumber daya manusianya juga.
Mestinya kita punya SOP atau standarisasi untuk bantuan ke lokasi bencana, sedapatnya bantuan pangan memiliki standar gizi, prioritas pemantauan gizi secara berkala, aktivasi layanan posyandu yang lebih maksimal, edukasi keluarga, bahkan pendampingan intensif untuk psikososialnya.
Ujung cerita, bangkit dari bencana bukan hanya kembali memiliki rumah namun juga memastikan hak anak untuk mendapatkan gizi seimbang yang terjaga walau berada di area pengungsian atau rumah sementara. Mereka memiliki hak penuh untuk tetap hidup sehat dengan gizi yang layak.
Komentar
Posting Komentar