Film Yuni: Rangkuman Patah Hati Perempuan

Semalam aku menyaksikan salah satu karya besar yang kita tidak akan percaya kalau itu film dari Indonesia. Pemenang beberapa penghargaan festival film; film Yuni. Cerita tentang perjalanan anak SMA yang bertemu usia labil yang belum tau ingin apa, tak punya pendukung yang mumpuni, tapi dilingkupi oleh lingkungan yang masih sangat kolot. Meskipun Yuni bukan saja Yuni sendiri, tetapi Yuni adalah representasi kehadiran perempuan yang masih mencari posisinya. 

 


Di film ini kutemukan banyak patah hati kita tentang perempuan yang juga sudah biasa kita dengar belakangan ini. Atau bahkan sejak dahulu kala. Perempuan sekeliling Yuni digambarkan sebagai pendamping saja, yang tidak bisa memutuskan, tidak bisa berpendapat, bahkan ruang geraknya yang dibatasi oleh mitos-mitos. Tak boleh ini tak boleh itu hanya berdasarkan satu kata luar biasa: PAMALI. Bahkan untuk menyebutkan hal-hal yang bagi laki-laki sudah menjadi candaan di tongkrongan, tetapi bagi perempuan malah tidak boleh membicarakannya.

Bayangkan bagaimana terkekangnya sosok perempuan di masa-masa lampau. Juga betapa semena-menanya laki-laki waktu itu. Eh ini kurasa masih sampai sekarang. Meskipun film ini juga berbicara kalau tidak semua cerita bisa kita bandingkan satu sama lainnya. Tidak bisa pula kita mengatakan semua perempuan atau semua laki-laki. Kalau katanya ‘perempuan yang memancing laki-laki’ di film ini ada sampel untuk itu. Kalau katanya ‘laki-laki itu punya bejatnya sendiri-sendiri’, di film ini pun menyampaikan hal itu juga. Film ini berbicara lantang untuk segala sesuatunya memang harus kembali pada diri sendiri dan edukasi.

Aku menyimpulkan sesuatu juga dari film ini. Seperti gizi, ilmupun harus seimbang untuk hidup dengan sehat jiwa dan raga. Seperti pengetahuan tentang hubungan suami istri yang diketahui Yuni hanya dari temannya yang sudah menikah lebih dulu. Keingintahuannya berakhir pada pencarian google yang hanya menyajikan apa yang ingin kita cari saja. Kebetulan juga Yuni hanya memasukkan keyword ‘cara’, jadi aku yakin di sana tidak ada bacaan baik buruk dari apa yang akan dia lakukan.

Meskipun aku masih belum berani berpendapat tentang kesetaraan yang diselipkan dalam film ini. Suka atau tidak, hal-hal seperti itu memang ada di sekitaran kita. Beberapa memang ada yang bisa diarahkan straight seperti mau kita, beberapa ada yang berjuang melawan arahnya untuk menyenangkan orang lain, ada lagi yang menerima seutuhnya hal itu. Dan semua yang kusebutkan ini ada banget di film ini. 


 

Wajar sekali kalau film ini keluar masuk festival film yang bergengsi. Dengan tagline promosinya ‘Antarnya Anak ke Sekolah, Bukan ke Pelaminan’ akan menjadikan film ini tamparan kepada banyak orang tua yang masih kolot dengan banyak aturan lama yang seharusnya sudah diperbaharui. Dan memang menunjukkan sebegitu sulitnya mengisi peran kita di lingkungan manapun.

Oh iya, menurutku satu hal yang ingin sekali disampaikan Kamila Andini di film ini adalah pentingnya seks education untuk semua anak. Baik itu laki-laki dan perempuan. Selain itu semakin ke sini, kita yang mungkin akan menjadi orang tua tidak lagi bisa sembunyi pada kata PAMALI. Tetapi harus menjelaskan alasan yang logis dan jujur. Sebab meskipun semua hal mudah diakses, tetapi lebih sering dibatasi keyword yang kita mau saja. Seringnya orang hanya meng-klik apa yang dia mau atau klik satu artikel saja. Sedangkan seringnya satu artikel kadang juga masih kurang informasinya. Padahal perlu membaca beberapa atau bahkan banyak sekali artikel untuk memahami sesuatu. Perlu kesadaran luar biasa untuk bisa mendapatkan banyak sudut pandang untuk memahami sesuatu.

Yang pasti film ini sangat layak ditonton untuk memahami banyaknya patah hati perempuan dalam memperjuangkan keadilan untuk diri kita saat ini. Dan beberapa adegan juga sedang kita bicarakan di dunia nyata. Tentang penjebakan, pelecehan, bahkan sampai kematian.

Selain itu filmnya sedang dalam perbincangan akan masuk Oscar! Ini gila sih, kalau semisalnya jadi, bangga sekali aku bisa menjadi penonton dalam minggu pertama penayangannya di Indonesia. Paan sih ah! HAHAH, tapi kalian harus tonton sih.. 

Satu lagi pesan paling penting dari film ini, tentang saling keterbukaan dalam komunikasi antara anak dan orang tua ataupun sebaliknya. Di saat seperti itulah anak-anak tidak akan mencari ketenangan atau jawaban di luar rumah, terlebih anak remaja yang sedang punya jutaan pertanyaan sulit untuk hidupnya. Untung kalau anak menemukan penjawab yang patut, kalau malah menambah pertanyaan baru akan runyam jadinya. Seperti halnya Yuni di film ini, tontonlah kalau mau tahu. 



Komentar

  1. Jadilah orang tua yang tidak hanya bisa membuat aturan namun harus bisa menjadi diary anak² nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga Allah bantu kita untuk menjadi seperti itu :")

      Hapus

Posting Komentar