Another Minang Pride, Perjalanan Pertama (14 Juli 2022 di Bioskop)

First of all, kita harus terima kasih dulu ke Meihanum Sahef karena sudah menghibahkan invitationnya. Jadi, bisa menyaksikan karya besar Arif Malinmudo untuk yang ketiga kalinya setelah Surau dan Silek (tahun) dan Liam dan Laila (tahun). Bukan karena dia tidak mau hadir, hanya saja satu dua hal yang memaksanya untuk tidak dapat hadir ke sana. Tolong kalian follow akun IG-nya ya , kalian klik aja tulisan ini..  @meihanumsahef.  


Film Perjalan Pertama merupakan film ketiga Arief Malinmudo yang diproduksi bersama Mahakarya Pictures dan bekerja sama dengan D'Ayu Pictures. Sebuah film drama keluarga dengan berlatarkan kehidupan di kampung Minangkabau dengan disertai nilai-nilai keminangan yang membalut setiap menit di film ini. Kehidupan kampung Minang dengan surau dan lapau. Nanti akan tayang serentak di Indonesia (kuberharap Malaysia juga bisa ikut meramaikan) mulai tanggal 14 Juli 2022. Tontonan wajib untuk orang Minang nih wei.

Pamer boleh ya! 
 

Sedikit warning tipis nih, kalian harus sekali menonton ini dalam situasi perut kenyang. Menit-menit awal saja sudah disuguhkan sate padang, lalu ada lagi sampadeh ikan yang membuatku berniat minggu ini harus memasak sampadeh sepekat itu juga. Ada beberapa camilan khas Minang pula. Oiya, itu Randy Pangalila mengaduk galamai ya bukan dodol, meskipun masih sebangsa juga.

 

Ada juga hadir kebiasaan adat tradisi di kampung-kampung orang Minang, dimana satu diantaranya dipertanyakan Gaek Tan. Adegan yang harus-wajib-banget kalian saksikan di film ini. Adegan paling lucu namun bagi orang Minang sering jadi bahan perang argumen pula. Meskipun di sana hanya disebut Gaek: “adat basandi syarak", namun sebuah isu yang tidak pernah sudah kalau dibawa serius. 

 

Padahal itu petuah yang sama sekali tidak bisa dibaca sepotong-sepotong saja. “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai” Begitu kalau tidak salah, dimana ya syarak tetap menjadi sesuatu yang didengarkan dan diamalkan. Sementara adat tetap dipakai dengan segala kebijaksanaan dalam memaknainya. Namun bagiku, respon Mak Datuak dan masyarakatnya otentik orang Minang saat itu. HAHAHAHAH.

 


Permainan yang dimainkan anak-anak di Perjalanan Pertama ini menarik kenangan-kenangan anak 90’ sekali. Sebab aku meyakini anak kekinian tidak akan relate sama sekali dengan permainan-permainan di sana. Bukan kesalahan mereka juga sih, tetapi keberadaan pukul sarung dan lain-lain di film ini cukup menyejukkan kerinduan masa kecil. Tapi bagiku, dengan latar waktu yang tidak terlalu berjarak dengan saat ini, permainan kuno yang sudah jarang dikenal ini agak terasa dipaksakan kehadirannya. Ya udahlah ya, kita abaikan saja. Hehe.

 

Yang paling-paling di film ini sih kalian akan dimanjakan dengan pemandangan hidden-gem di Sumatra Barat. Aku saja sepertinya belum pernah ke tempat-tempat itu. Pas di Kota Bukittingginya sih aku jelas sudah, yang lain-lainnya jelas belum. Atau aku tidak sadar karena masih belum tahu Nagari Maturi itu dimana, setahuku yang tidak jauh dari  danau ada daerah namanya Matur. Penghasil tebu terbaik di zamannya.


 

Cerita tentang Pak Tan dan Yahya ini patut diikuti meskipun ya begitu-begitu saja. Tidak ada yang terlalu membuat Bahagia, karena memang ini bercerita tentang kehidupan seorang Kakek yang merahasiakan tentang kepergian orang tua cucunya. Sementara cucunya yang sangat pintar ini selalu menanyakan perihal orang tuanya tersebut.

 

Sedikit kutipan yang paling menempel dan menamparku dari omongan Pak Tan adalah ‘ada hal-hal yang tidak perlu kita ketahui untuk meringankan jalan kita’. Kurang lebihnya begitu, aku tidak bisa ingat persis. Tetapi itu inti yang disampaikan Pak Tan kepada Yahya.

 

Aku melihat Yahya sebagai representasi anak Minang yang seharusnya, bukan pada umumnya, namun seharusnya. Kritisnya terhadap sesuatu, kemauannya melakukan hal baik, kemampuannya belajar, mudahnya dia bergaul, sopannya sikap-bicaranya, dan lain-lain. Yang artinya film ini memang bukan sekadar untuk ditonton, tetapi beberapa hal baik yang dimuatkan pada film Perjalan Pertama ini adalah pendidikan yang menyenangkan.

 

Orang tua khususnya, jangan egois untuk mengakui kalau pendidikan terpanjang adalah menjadi orang tua. Tak pernah tamat kalau kata Opung-nya si Domu di Ngeri-ngeri Sedap. Sementara di Perjalanan Pertama, diperlihatkan satu dari sekian ratus juta fakta yang mungkin terjadi antara orang tua dan anak.

 


Kalau keseluruhan sih aku tidak begitu puas dengan filmnya, meskipun tetap berbahagia seorang Arief Malinmudo yang masih konsisten dengan ke-Minang-an dia dalam layar kaca. Bukan saja melibatkan tempat, adat, tradisi, budaya, nilai agama, namun juga banyak seniman-seniman lokal yang dilibatkan. Totalitasnya berbuat untuk Sumatra Barat harus diapresiasi setinggi-tingginya.

Komentar

  1. Terimakasih penjelasan nya mba rere, tulisan ini bermanfaat sekali bagi saya yang tidak terlalu suka nonton lama, penjelasan yg pas, padet dan berisi sehingga informasi yg disampaikan bisa saya tangkap dengan baik, tetap semangat mba rere dalam berkarya.

    BalasHapus
  2. Saya Ahmad Riddi Gazali, pemilik akun IG @aku_taksukalapar cuma mau bilang tulisannya kece banget. Sukses selalu mba rere.

    BalasHapus

Posting Komentar